Dago, Kesejukan di tengah Keramaian


Pesona Dago yang dihiasi pepohonan di kiri kanan

Ada yang bilang, belum lengkap kalau wisata ke Bandung jika belum ke Jl. Ir. H. Juanda, atau yang lebih dikenal dengan nama Jl. Dago. Jalan ini merupakan salah satu jalan yang ramai di Bandung karena banyaknya outlet – outlet perbelanjaan, perkantoran di sepanjang jalannya. Hampir tidak ada rumah pribadi di sepanjang Jl. Dago ini. Jalan ini merupakan salah satu tujuan wisata utama para wisatawan lokal maupun mancanegara, karena pesona jalannya yang begitu indah dihiasi pepohonan yang ada di kiri kanannya dan sejuknya udara, setidaknya sebelum Dago penuh sesak dengan berbagai kendaraan bermotor seperti saat ini. Dago juga merupakan jalan yang menghubungkan Bandung dengan Subang melalui Dago Pakar yang sejuk.

Jalan Ir. H. Juanda atau Dago memiliki panjang total sekitar 2.5 kilometer,

Dago yang terliht dari bawah Jembatan Layang Pasupati

membentang dari arah Dago Pakar yang berakhir di perempatan Jl. R.E. Martadinata(Riau) yang mengarah ke Bandung Indah Plaza(BIP) Pada zaman kolonial dahulu, jalan ini bernama Dagostraat yang merupakan tempat tinggal orang orang elite Belanda yang mendiami Bandung. Tahun 1950 nama Dagostraat diubah menjadi Dago.

Kata dago berasal dari bahasa Sunda yaitu ‘dagoan’ yang artinya ‘menunggu atau tunggu’. Pada jaman ini, penduduk pribumi yang berada di wilayah utara Bandung memiliki kebiasaan saling tunggu menunggu satu sama lain, khususnya di kawasan terminal dan simpang Dago sekarang, ketika mereka hendak pergi ke kota. Hal ini disebabkan jalan menuju kota merupakan hutan belantara yang sepi dan rawan binatang buas.

Dalam bukunya ‘Semerbak Bunga di Bandung Raya’, Haryonto Kunto menuliskan bahwa pada pertengahan abad ke-19, di antara Simpang Dago (sekarang) dengan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan daerah hutan belukar yang sepi. Jalanannya belum bisa dilalui oleh kendaraan. Makanya, penduduk yang pergi pagi-pagi buta ke pasar biasanya saling menunggu satu sama lain agar dapat pergi dalam bentuk rombongan. Mereka juga melengkapi rombongannya dengan lelali yang bersenjata parang dan tombak untuk mengawalnya dari begal (penyamun). Kebiasaan menunggu itu dalam bahasa Sunda biasa disebut “padago-dago” (Arya Dipa, 2007).

Pada tahun 1810, jalan Dago masih berupa jalan setapak. Baru pada tahun 1900-1914, pemerintah Hindia-Belanda mengadakan pembangunan di Bandung. Pembangunan di Dago dimulai pada tahun 1905 dengan dibangunnya rumah peristirahatan Andre Van Der Brun. Rumah peristirahatan ini masih berdiri hingga sekarang (letaknya bersebelahan dengan hotel Jayakarta) .

Mengunjungi Dago, anda akan disambut dengan keramaian di sepanjang jalan, mengingat jalan ini merupakan akses utama baik akses perkantoran dan pendidikan. Sebelum memasuki Dago, dari arah Subang di kiri jalan, anda dapat menemukan hotel Sheraton. Sepanjang jalan sebelum memasuki Dago, jalan itu merupakan daerah pemukiman penduduk dan kost mahasiswa Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjajaran. Memasuki Jl. Dago, sepanjang jalan terdapat berbagai outlet mulai dari outlet pakaian, makanan, bank, dan perkantoran, seperti FO Grande, FO Jetset, FO Blossom, lalu outlet makanan seperti Dago Panyawangan, Pizza Hut Dago, dan pusat pendidikan, yaitu SMAN 1 Bandung , lalu Institut Teknologi Bandung yang masuk ke arah Jl. Ganesa seberang RS. Santo Borromeus yang juga berada di Jl. Dago, lalu terus kebawah akan ada Gadget Center yang menyediakan gadget seperti HP, Blackberry, dsb. Di akhir Jl. Dago anda akan bertemu dengan Bandung Indah Plaza. Outlet selengkapnya di Jl. Dago bisa anda lihat disini : .  http://bandungtoday.com/?p=66

Pada hari Minggu pagi sekitar pukul 06.00 s/d 11.00, jangan harap anda akan menemukan kendaraan di sini. Ya, Car Free Day diberlakukan di Dago ini setiap hari Minggu pukul 06.00 s/d 11.00. Sebagai gantinya, anda akan menemukan banyak orang – orang yang berjalan – jalan, lari , dan bersepeda untuk sekedar berolahraga. Ada pula yang bermain bulutangkis .

Namun untuk berbelanja di Jl. Dago ini, memang anda butuh merogoh kocek yang tidak sedikit, karena memang outlet di sini menjual barang produksinya dengan harga yang diatas rata – rata.

Akses ke Jl. Dago pun sangat mudah jika lewat Tol Pasteur, naik Jalan Layang Pasupati, lalu belok ke arah Dago, anda akan turun di Tamansari, lalu berjalan sedikit ke depan, belok kiri, anda sudah mencapai Dago. Tetapi perlu dicatat bahwa jalan ini cukup ramai dan ada kemungkinan macet di jalan ini.

Selamat berjalan – jalan di Dago  !😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: